Sentra HaKI
» halaman depan
lihat situs sponsor
ARTIKEL HaKI REGULASI KEGIATAN
SITUS FORUM e-DATA KONTAK

Senin, 24 November 2014  
 
 

Hak atas Kekayaan Ilmiah :
» daftar fenomena

Tekstil Paling Banyak Dipalsukan
faq

JAKARTA - Pemalsuan merek produk di Indonesia semakin marak. Menurut data dari Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HaKI), Departemen Kehakiman dan Hak Azasi Manusia, setiap bulan menerima laporan sedikitnya 100 kasus pemalsuan berbagai merek produk. Produk terbanyak yang dipalsukan adalah tekstil, elektronik, serta makanan dan minuman. Akibatnya, negara menderita kerugian triliunan rupiah akibat potensi kehilangan dari pajak penjualan (PPn).

Direktur Merek, Ditjen HaKI, Depkeh HAM, Ermawati Junus, mengatakan banyak kasus ditemukannya berbagai merek produk yang tidak sesuai dengan ketentuan umum yang berlaku. "Sehingga sulit melindungi produk tersebut dari jeratan hukum yang berlaku, sebab yang dilindungi hukum adalah produk yang terdaftar dan sesuai dengan ketentuan umum," kata Ermawati, dalam sebuah seminar di Jakarta, kemarin.

Diakuinya, untuk membedakan merek yang digunakan palsu atau tidak, sulit dideteksi sejak awal. Pasalnya pada saat pendaftaran paten suatu produk, merek produk tersebut tidak melanggar HAKI. Namun ketika produk tersebut mau dipasarkan, ternyata merek yang ditempelkan adalah merek-merek berwarna dengan merek terkenal. "Sehingga merek yang didaftarkan berbeda dengan yang dipasarkan. Jadi, pemberantasan pemalsuan ini agak susah dilaksanakan," terangnya.

Sebab, banyak pelanggaran yang tidak bisa dijangkau undang-undang yang ada seperti UU Merek dan UU HaKI. Hingga kini, UU merek yang ada hanya mengatur masalah pemalsuan merek, sedangkan menyangkut pemalsuan produknya sendiri termasuk pelanggaran perdata yang sanksinya juga dijerat dengan KUHP. "Banyak juga kasus-kasus pemalsuan yang tidak bisa dijangkau UU merek. Untuk itu kita berharap UU merek di masa mendatang bisa menjangkau pemalsuan isi produk," tegasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP), Bambang Sumaryano menambahkan, bahwa terdapat pengelompokkan pembeli barang palsu. Pertama adalah orang yang membeli barang palsu dan mengetahui barang itu palsu. Kedua, kelompok orang yang membeli barang palsu karena tertipu, seperti membeli obat-obatan dan ordendil kendaraan bermotor. (faq)

Sumber : Jawa Pos (8 Oktober 2004)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 27 November 2004

 
LIPI

MAILING-LIST

daftar keluar




BERITAHU TEMAN



 
  » Penghargaan
  » Cara link
  » Mengenai kami
 
AKSES PENGELOLA

  username :
 
  password :
 

 
 
  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2014 LIPI