fisik@net - http://www.sains.org/haki/
Uke Kurniawan, Memopulerkan Batik Banten
Tiur Santi Oktavia

NAMA batik Banten rasanya masih asing di telinga. Namun, pembudidayaannya saat ini sedang menggeliat. Adalah Surat Keputusan Gubernur Banten pada Oktober 2003 tentang pembentukan panitia peneliti batik Banten yang memicu batik ini untuk dibudidayakan.

Uke Kurniawan, sebagai wakil ketua dari panitia penelitian batik Banten menuturkan, dimulai sejak adanya SK Gubernur Banten tadi telah dilakukan pengkajian motif. Pada dasarnya pengkajian itu telah dilakukan sejak tahun 2002. Hasil dari pengkajian motif tersebut kemudian dipresentasikan di depan para arkeolog nasional, budayawan, dan pemerintah Banten pada September 2004.

"Sumber daya arkeologi yang memiliki seni hias Banten belum banyak terungkap. Hal ini yang menjadi bahan pemikiran bersama. Di antara sumber daya arkeologi yang telah terungkap secara sistematik antara lain pada Artefak Terwengkal, hasil penggalian Pusat Penelitian Arkeologi Universitas Indonesia tahun 1976," kata Uke.

Transformasi motif dari Terwengkal ke suatu kain batik Banten merupakan upaya-upaya menghidupkan kembali seni hias Banten yang telah hilang sejak abad ke-17.

Penyelamatan dan pelestarian potensi kekayaan intelektual masyarakat Banten yang telah hidup ratusan tahun itu telah diwujudkan ke dalam berbagai wahana, baik pada seni hias ornamental bangunan maupun pada seni hias kain yaitu batik.

Rekonstruksi seni hias yang dimunculkan melalui wahana keramik, gelasir, dan nongelasir telah diwujudkan oleh Yayasan Baluwarti pada tahun 1994. Tahun 2002 telah dimunculkan melalui ornamental bangunan- bangunan di kawasan Banten lama. Pada tahun 2004 seni hias Banten telah dimunculkan melalui wahana kain batik oleh PT Uthana Group yang Direktur Utamanya adalah Uke.

"Ragam hias lokal genius yang berkesinambungan dari masa prasejarah hingga ke masa Islam adalah ragam hias berbentuk tumpal atau pucuk rebung, yang berubah interpretasi pemaknaannya. Pada masa Islam diisi dengan makna Mukernas yang artinya perukunan," kata Uke.

Setelah dibentuk panitia penelitian pada Oktober 2003, mulai dilakukan studi banding ke Pekalongan dan Solo. Hal ini terutama untuk melihat desain dan warna yang digunakan pada batik kedua daerah tersebut. "Setelah studi banding tersebut, kita mulai membuat contoh batik yang akan di produksi. Pada bulan Januari, produk batik tersebut kita patenkan di HAKI Tangerang," jelas Uke.

Satu minggu setelah dipatenkan, Uke menerima undangan untuk mengikuti pertemuan para arkeologi dari 52 negara. Pertemuan dilangsungkan di Malaysia akhir Januari 2005. "Dari Indonesia kita membawa hasil kajian mengenai batik Banten dan memperoleh predikat terbaik. Hingga motif datulaya mendapat tanda tangan dari Menteri Dalam Negeri Malaysia," kata Uke.

Menurut Uke, berdasarkan penelitian mereka sebetulnya ditemukan 75 ragam hias fragmen kreweng Banten yang berbentuk tumpal dan belah ketupat sebagai motif batik. Namun, pada tahap sekarang dari 75 ragam itu hanya 12 motif yang akan diproduksi, yaitu datulaya, pamaranggen, pasulaman, kapurban, pancaniti, mandalikan, pasepen, surasowan, kawangsan, srimanganti, sabakingking, dan pejantren.

Menurut Uke, dari Malaysia, pengkajian terhadap motif batik Banten terus dilakukan. "Batik Banten malah menjadi konsultan di beberapa daerah. Kami melakukan pameran di Singapura, Bandung, Bali, dan Palembang. Keunikan dari motif batik Banten ini, misalnya seperti di Bali motif mandalikan digunakan secara sakral untuk upacara sakral agama Hindu. Nah, dari keajaiban ini kita terus meneliti dan memproduksi batik Banten," papar Uke.

>small 2small 0< yang menjadi ciri khas utama batik Banten adalah motif datulaya. Motif ini memiliki dasar belah ketupat berbentuk bunga dan lingkaran dalam figura sulur-sulur daun. Warna yang digunakan, motif dasar berwarna biru, variasi motif pada figura sulur-sulur daun berwarna abu-abu, pada dasar kain berwarna kuning. "Nama datulaya ini diambil dari tempat tinggal pangeran. Datu itu artinya pangeran, laya artinya tempat tinggal," jelas Uke.

Uke memulai usahanya di tahun 2004 dengan modal Rp 100 juta. "Kemudian PT Uthana mendapat dana pendampingan dari PT Jamsostek (Persero) sekitar Rp 100 juta serta dari PT Krakatau Steel Rp 200 juta," kata Uke.

Awalnya Uke hanya memiliki puluhan karyawan. Sekarang berjumlah ratusan. "Awalnya memang masyarakat kurang antusias, tapi seiring perkembangannya, masyarakat mulai tertarik untuk belajar membuat batik banten," katanya.

Setiap bulan Uke memproduksi sekitar 600 kodi batik, baik yang dicap, printing, maupun tulis. "Untuk batik tulis memakan waktu yang cukup lama. Dalam waktu dua minggu hanya dapat diproduksi satu batik. Tenaga yang mengerjakan hanya 10 orang," katanya.

Harga batik Banten tersebut berkisar Rp 75.000 hingga jutaan rupiah. Omzet per bulan sekitar Rp 100 juta. "Meski usaha ini masih seumur jagung, namun kami sudah mengekspor ke Malaysia, Finlandia, serta Korea," kata Uke.

Uke menceritakan, usahanya untuk membudayakan batik Banten tidak hanya sampai di situ. Pada 22 Desember 2004 saat dilangsungkan konvensi batik se-Indonesia Uke mengajukan saran kepada Menteri Perindustrian Andung Nitimihardja untuk mengimbau instansi di setiap daerah agar menggunakan batik produknya sekali dalam seminggu.

Pada 31 Januari 2005 dikeluarkan Surat Keputusan Menteri Perindustrian Nomor 34/M/I/ 2005 mengenai imbauan penggunaan produk tenun tradisional, batik khas daerah.

"Dengan imbauan tersebut, semangat para pengrajin batik bangkit. Maka budaya Indonesia dapat terus bertahan dan berkesinambungan," kata Uke.

Menurut Uke, tantangan ke depan adalah memproduksi bahan baku dari Banten sendiri. Sampai kini bahan baku masih diambil dari Solo dan Pekalongan. Dia juga berharap usahanya ini bisa jadi badan usaha milik daerah. "Kan namanya batik Banten bukan batik Uke atau batik Uthana," ujarnya.

Membuat batik Banten dikenal di dalam dan luar negeri adalah mimpi Uke. "Selama ini suvenir dari Banten hanya golok. Kesannya terlalu kasar. Dengan batik Banten saya harap masyarakat Banten bisa dikenal sebagai masyarakat yang lembut dan berbudaya tinggi," tandasnya. Semoga mimpi Pak Uke Bisa tercapai....

Sumber : Kompas (21 Maret 2005)


revisi terakhir : 11 April 2005